MOJOKERTO – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur secara resmi melaksanakan program Pendampingan Desa Wisata yang menyasar desa-desa potensial di Kabupaten Mojokerto. Kegiatan intensif ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 14 hingga 16 April 2026, dengan melibatkan delegasi strategis dari Desa Belik dan 7 desa lainnya di wilayah Kabupaten Mojokerto.
Desa Belik mengirimkan tim lengkap guna memastikan hasil pendampingan dapat diimplementasikan di seluruh lini, mulai dari kewilayahan hingga operasional. Tim tersebut terdiri dari Kepala Dusun Belik, Kepala Dusun Jibru, Kaur Umum, Anggota BPD, Bendahara BUMDes, serta Manager Petung Park.
Hari 1: Penguatan Regulasi dan Standarisasi Nasional
Bertempat di Balai Desa Ketapanrame, hari pertama fokus pada penguatan pondasi pemerintahan desa dalam mengelola wisata. Materi disampaikan langsung oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Mojokerto terkait pemetaan potensi daerah.
Puncak sesi hari pertama diisi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Dalam pendampingannya, Kadis Jatim menekankan bahwa status "Desa Wisata" memerlukan komitmen administratif dan standar pelayanan yang tinggi. Hal ini menjadi arahan penting bagi Kaur Umum dan Anggota BPD dalam menyusun tata kelola desa yang mendukung perkembangan objek wisata secara legal dan profesional.
Hari 2: Ekowisata dan Strategi Branding Digital
Memasuki hari kedua, pendampingan bergeser ke aspek keberlanjutan dan promosi:
-
East Java Ecotourism (EJEC): Para ahli dari EJEC mendampingi para Kepala Dusun dan Manager Petung Park untuk membedah konsep ekowisata. Fokus utama adalah bagaimana Desa Belik tetap bisa meraup keuntungan ekonomi tanpa merusak kelestarian alam, terutama di area Petung Park.
-
Pemasaran Digital bersama "Wong Suroboyo": Untuk menghadapi tantangan era digital, entrepreneur dari akun Wong Suroboyo hadir memberikan bimbingan teknis mengenai strategi pemasaran. Peserta diajarkan cara mengemas konten visual yang menarik agar destinasi desa bisa bersaing di media sosial dan menarik minat wisatawan urban.
Hari 3: Studi Banding Lapangan (16 April 2026)
Pada hari terakhir, Kamis, 16 April 2026, program pendampingan ditutup dengan studi banding lapangan untuk melihat praktik terbaik (best practice) pengelolaan wisata:
-
Petung Park: Sebagai destinasi unggulan Desa Belik, lokasi ini menjadi titik observasi utama. Peserta dari 8 desa saling bertukar pikiran mengenai manajemen fasilitas dan keterlibatan UMKM lokal di bawah pengawasan Bendahara BUMDes.
-
Kayutangan Heritage (Malang): Tim bergerak ke Malang untuk mempelajari bagaimana pengelolaan wisata berbasis sejarah dan komunitas. Pendampingan di lapangan ini memberikan gambaran nyata bagi peserta mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan keramahan warga lokal sebagai kunci keberlanjutan wisata.
Komitmen Pasca-Pendampingan
Program pendampingan dari Disbudpar Jatim ini diharapkan menjadi katalisator bagi Desa Belik dalam memperbaiki sistem manajemen wisatanya. Dengan keterlibatan aktif perangkat desa hingga pengelola lapangan, Desa Belik kini memiliki panduan yang lebih jelas untuk mengembangkan potensi dusun secara mandiri.
"Pendampingan ini sangat krusial bagi kami. Kami belajar langsung dari ahlinya—mulai dari Kadis Provinsi hingga praktisi digital. Ini adalah langkah awal bagi Desa Belik untuk naik kelas," ungkap perwakilan peserta.
Melalui pendampingan yang berakhir pada 16 April ini, Desa Belik beserta 7 desa lainnya di Kabupaten Mojokerto diharapkan mampu mengimplementasikan strategi baru yang lebih profesional, digital, dan tetap berwawasan lingkungan.