Ibadah qurban merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama pada momen Hari Raya Idul Adha. Di balik pelaksanaannya, terdapat kisah agung yang menjadi pondasi spiritual dan historis: kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah ini menjadi simbol ketaatan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
Memahami sejarah ibadah qurban bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai ketauhidan, kesabaran, dan pengorbanan dalam kehidupan modern. Dengan memahami akar sejarahnya, kita dapat meneladani makna terdalam dari penyembelihan hewan qurban, bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai bentuk penghambaan.
Dalam artikel ini, akan dibahas secara menyeluruh sejarah ibadah qurban dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, lengkap dengan ayat Al-Qur'an, pandangan ulama, serta hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa monumental tersebut.
Awal Mula Ibadah Qurban dalam Sejarah Islam
Sejarah qurban bermula dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya, Ismail AS. Perintah ini bukan sekadar ujian, tetapi bentuk wahyu yang menguji kadar keimanan dan kepatuhan seorang nabi kepada Sang Pencipta.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an surah Ash-Shaffat ayat 102–107:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Ia menjawab: 'Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Perintah ini berasal dari mimpi yang berulang-ulang, yang dalam tradisi kenabian merupakan bentuk wahyu dari Allah. Nabi Ibrahim AS tidak meragukan perintah tersebut meski sangat berat, dan Ismail AS pun dengan lapang dada menerima keputusan ayahnya.
Tingkat Keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS
Salah satu pelajaran paling besar dari kisah ini adalah nilai keikhlasan. Nabi Ibrahim AS menunjukkan ketundukan tanpa syarat kepada Allah SWT. Tidak ada protes, tidak ada pertanyaan, hanya ketundukan. Begitu pula dengan Ismail AS yang justru memberi dukungan kepada ayahnya untuk melaksanakan perintah tersebut.
Para ulama sepakat bahwa momen ini menjadi puncak ujian keimanan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa inilah bukti nyata bahwa cinta kepada Allah harus melebihi cinta kepada anak sekalipun. Dalam Tafsir al-Qur'an al-‘Azhim, beliau menulis:
“Ini adalah ujian terbesar yang Allah turunkan kepada Ibrahim AS. Ketika ia lulus ujian ini, Allah gantikan anak itu dengan seekor sembelihan dari surga.”
Penggantian Ismail AS dengan Sembelihan dari Surga
Ketika Nabi Ibrahim AS telah membaringkan Ismail AS dan siap menyembelihnya, Allah SWT kemudian menggantinya dengan seekor domba dari surga sebagai bentuk rahmat dan penghargaan atas kepatuhan mereka.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 107)
Menurut mayoritas mufassir seperti Imam Al-Qurthubi dan Imam At-Tabari, sembelihan tersebut berasal dari surga dan menjadi asal-muasal syariat ibadah qurban dalam Islam. Para ulama juga menyebutkan bahwa penyembelihan hewan qurban pada hari raya Idul Adha adalah bentuk pelestarian dari syariat Nabi Ibrahim AS.
Makna dan Tujuan Qurban dalam Islam
Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan refleksi dari ketaatan, keikhlasan, dan ketundukan kepada Allah. Allah SWT tidak membutuhkan daging dan darah dari hewan yang disembelih, melainkan keikhlasan dari hati orang yang berqurban. Sebagaimana firman Allah SWT:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu-lah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Qurban juga menjadi sarana untuk berbagi kebahagiaan dan keberkahan dengan sesama, terutama fakir miskin. Dalam praktiknya, daging qurban dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan agar mereka pun bisa menikmati hari raya Idul Adha.
Keteladanan yang Relevan Sepanjang Masa
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi teladan sepanjang zaman. Dalam kehidupan modern yang penuh dengan tantangan iman, qurban mengajarkan kita untuk menempatkan Allah di atas segalanya—di atas harta, jabatan, bahkan keluarga.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut bahwa qurban mengandung nilai pendidikan spiritual yang mendalam. Ia menulis bahwa penyembelihan qurban adalah simbol menyembelih nafsu duniawi dan ego pribadi demi ketundukan kepada Allah SWT.
Sejarah ibadah qurban yang bermula dari Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS mengandung pelajaran yang sangat dalam. Ini bukan sekadar peristiwa masa lalu, tapi adalah warisan spiritual yang mengajarkan nilai totalitas dalam penghambaan. Qurban menjadi pengingat bahwa cinta kepada Allah harus melebihi segala bentuk cinta duniawi.
Ibadah qurban dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari kisah monumental Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Melalui pengorbanan dan keikhlasan mereka, umat Islam diajarkan makna sejati dari ketakwaan. Dalam setiap hewan yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha, terdapat nilai-nilai tauhid, ketaatan, dan solidaritas sosial yang terus hidup hingga hari ini.
Ingin meneladani semangat Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS melalui ibadah qurban? Yuk, salurkan hewan qurban Anda melalui Baitul Maal Muamalat (BMM). Amanah, terpercaya, dan menyasar penerima manfaat yang tepat di pelosok negeri. Klik tombol Donasi Qurban Sekarang dan wujudkan qurban terbaikmu tahun ini. [Faqirul Ilmi/2025]